Rabu, 09 Januari 2013

mobil mewah merah naas



Mobil seharga 3 miliaran rupiah itu mengalami rem blong sebelum menabrak tebing di Magetan, Jawa Timur.
Carmall.com - Kecelakaan yang dialami oleh Dahlan Iskan, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memang terus menjadi sorotan publik di Tanah Air. Bahkan, kejadian itu sempat 'menenggelamkan' berita santer kecelakaan BMW X5 yang dialami oleh Rasyid Rajasa selaku putra Menteri Perekonomian, Hatta Rajasa.

Jelas, kecelakaan yang dialami oleh Dahlan Iskan menjadi 'magnet' bagi pemerhati dan pecinta mobil di Indonesia. Ini dikarenakan kecelakaan tersebut melibatkan mobil listrik Tucuxi yang dipamerkan beberapa hari lalu.

Kecelakaan ini terjadi saat Dahlan mengendarai Tucuxi dari Solo menuju Magetan. Perjalanan tersebut merupakan bagian dari uji kendaraan mobil listrik dengan jarak tempuh kurang lebih 1.000 km.

Namun naas, dalam sesi test drive itu Dahlan dan satu orang rekannya bernama Ricky menabrak tebing di Plaosan, Tawangmangu, Magetan, Jawa Timur setelah sebelumnya rem mobil dinyatakan tidak berfungsi. Alhasil, tunggangan seharga Rp 3 miliar yang rencananya bakal dijadikan mobil nasional itu mengalami kerusakan cukup parah di bagian depan, mesin dan atap kendaraan.

Atas kejadian tersebut, publik pun semakin bertanya-tanya, apakah mobil seharga miliaran rupiah itu masih layak untuk dijadikan mobil masa depan di Indonesia, jika pada kenyataannya performa kendaraan terbukti belum mumpuni. Ini menjadi kejanggalan pertama atas insiden yang terjadi.

Keresahan yang kedua adalah beberapa situs nasional melansir, electric car itu ternyata belum memiliki sertifikat resmi. Bambang S Ervan, Kepala Pusat Komunikasi (Kapuskom) Publik Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyatakan, mobil listrik Tucuxi milik Dahlan belum mendapatkan sertifikat uji tipe dari Kemenhub. Umumnya, agar sebuah kendaraan legal bisa digunakan di jalan raya diwajibkan mengantungi sertifikat itu.

Lantas, spekulasi pun berkembang, bahkan banyak kalangan menganggap Tucuxi melanggar aturan lantaran belum memiliki sertifikat uji tipe. Bagaimana dengan wewenang kepolisian dalam mengeluarkan pelat nomor suatu kendaraan? Bambang pun menegaskan, pihak polisi tidak bisa mengeluarkan pelat nomor jika Kemenhub belum mengeluarkan sertifikat uji tipe. Perlu diketahui, Tucuxi Dahlan Iskan selama ini menggunakan pelat hitam bertuliskan inisial Dahlan Iskan saja.

Fakta mengejutkan lainnya yaitu usai kejadian rem blong dan menabrak tebing, bekas Airbag yang mengembang untuk melindungi pengemudi dan penumpang tidak terlihat, yang ada hanya mobil mengalami kerusakan parah.

Sekelas kecelakaan mobil Rasyid Rajasa yang notabene bukan mobil listrik, bekas Airbag tetap terlihat mengembang. Pertanyaannya? Apakah mobil pemilik media massa terbesar di Jawa Timur ini tidak dibekali sistem keselamatan berupa Airbag?

Dengan harga miliaran Rupiah, sudah semestinya fitur keselamatan dan keamanan kendaraan tersedia di atas rata-rata. Selain Seatbelt, rem ABS dan fitur-fitur lainnya, airbag merupakan salah satu 'alat vital' sebuah kendaraan penumpang kelas premium.

Belum tau pasti, apakah memang Tucuxi tidak dibekali airbag atau fitur tersedia, namun bisa jadi pada saat kecelakaan, airbag tidak berfungsi sempurna. Hal ini patut mendapat perhatian khusus bagi sang tuner. Hal lain yang tampak mengkhawatirkan dari segi keselamatan, yakni atap kacanya yang nampak pecah bersepihan saat kecelakaan terjadi. Situasi ini tentu menjadi referensi mengkhawatirkan lain, apakah mobil seharga itu menggunakan material atap kaca yang dapa membahayakan penumpang kendaraan dan orang - orang di sekitarnya.

Informasi lain yang cukup 'menohok' masyarakat adalah pencipta mobil listrik Tucuxi menyatakan tidak bertanggung jawab atas kejadian rem blong yang mengakibatkan sang empu kendaraan mengalami kecelakaan. Danet Suryatama, tuner Tucuxi membuka satu fakta lagi, jika sebelum dilakukan uji coba di jalan raya dari Solo menuju Magetan, tim Dahlan Iskan dari Bengkel Kupu-Kupu Malam, Yogyakarta sempat mengutak-atik mobil pada Sabtu (29/12/2012) dengan alasan untuk penyempurnaan kendaraan.

"Dari seluruh pembongkaran yang dilakukan tanpa seizin dan sepengetahuan tim kami selama ini, kami mengkhawatirkan mobil malah kehilangan performa serta fitur keamanan yang telah dipasang," ujar Danet.

Polemik pun semakin melebar. Danet mengaku, kekhawatiran tim nya tersebut tak hanya berujung pada pengurangan performa kendaraan, tetapi juga lebih kepada peniruan teknologi kendaraan yang bisa saja dilakukan oleh pihak pembongkar, dalam hal ini Bengkel Modifikasi Kupu-Kupu Malam.

"Intinya, karena kami dinyatakan pada saat itu sudah tidak mempunyai akses terhadap kendaraan, dank arena telah terjadinya pembongkaran serta penggantian peralatan mobil, makan kami dari Tim ElektrikCar menyatakan tidak bertanggung jawab atas apa yang terjadi saat ini," tutup Danet.

Kalau sudah main lepas tangan begini, pertanyaan paling krusial adalah jika kelak mobil ini dibeli masyarakat umum, lantas siapa yang akan bertanggung jawab terakit perawatan dan ketersediaan layanan purna jual, mengingat jika pada Sang Menteri saja, produsen menolak bertanggung jawab?
07 Jan 2013 | Berita Lokal : Indonesia
"Kalau mobil itu sudah menerapkan electric brake, pasti kemungkinan rem blong itu kecil karena electric brake berfungsi menghambat laju kendaraan" (Dasep Ahmadi, Pencipta mobil listrik)
Carmall.com - Sehari pasca kecelakaan tunggal mobil 'Ferrari' Tucuxi yang dikemudikan Menteri BUMN Dahlan Iskan, Beberapa tim gabungan di Jawa Timur (Jatim) dikerahkan untuk meneliti syarat teknis dan kelayakan Tucuxi.

Penelitian bangkai Tucuxi dilakukan demi mendapatkan hasil apakah mobil ini memang sudah layak digunakan atau tidak. Dari investigasi tersebut juga akan diketahui secara jelas penyebab kecelakaan.

Berkaitan dengan hal ini, tim redaksi CarMall mencoba 'melempar' beberapa asumsi dan analisa yang diambil berdasarkan fakta di lapangan. Kali ini, informasi yang akan diberikan lebih mengarah unsur teknis yang bisa jadi menjadi sebab-akibat insiden kecelakaan Dahlan Iskan.

Setidaknya CarMall melihat sedikitnya ada empat perangkat keselamatan Tucuxi Dahlan Iskan yang patut dipertanyakan, antara lain:

1. Fitur Airbag
Airbag atau kantung udara yang terbuat dari bahan nilon tipis bertugas mengembang dan menahan tubuh pengemudi dan penumpang pada saat mobil mengalami benturan keras. Airbag merupakan fitur keselamatan standar wajib pada setiap kendaraan modern saat ini. proses terbukanya airbag terjadi sangat cepat sehingga sulit untuk dipahami.

Jika dihubungkan dengan insiden Tucuxi, fitur airbag tidak ditemukan 'batang hidungnya'. Namun, ada dua kemungkinan mengapa airbag tidak muncul pada saat kendaraan mengalami hantaman keras. Yang pertama, bisa jadi airbag sudah terpasang namun tidak bekerja dengan sempurna. Sistem airbag yang tidak mengembang pada saat mobil terjadi tabrakan kemungkinan disebabkan oleh sensor akselerometer yang dipasang di depan mobil tidak merespon tabrakan, baik dari depan, samping dan belakang.

Dugaan kedua, fitur airbag memang belum diterapkan ke dalam kendaraan Tucuxi Dahlan Iskan. Jika memang benar begitu, ini jelas fatal, karena dapat menyebabkan seluruh penumpang di dalamnya mengalami cedera serius.

2. Sistem Pengereman yang Sensitif
"Rem (kaki) blong dan hand rem juga tak berfungsi sehingga sengaja saya tabrakkan ke tebing," aku Dahlan Iskan. Sikap enggan basa-basi pemilik Jawa Pos Group tersebut memunculkan dugaan anyar tentang sistem pengereman Tucuxi yang bermasalah.

Mobil semewah itu masih dinyatakan sang empu bermasalah karena tidak berfungsi, padahal seharusnya mobil listrik seharga miliaran rupiah sudah pasti memiliki teknologi rem lebih canggih dari mobil standar.

Dasep Ahmadi, pencipta mobil listrik asal Bogor berkomentar, pengecekan rem meliputi sistem electrical brake wajib dilakukan sebelum uji coba. Menurutnya, sistem pengereman mobil listrik pasti sudah tersemat piranti braking system dimana ketika pedal gas diangkat, maka kendaraan akan mengerem dengan sendiri dan daya rem akan disuplai ke baterai untuk diubah menjadi tenaga. "Kalau mobil itu sudah menerapkan electric brake, pasti kemungkinan rem blong itu kecil karena electric brake berfungsi menghambat laju kendaraan," ujar Dasep.

Lain lagi dengan Danet Suryatama, peracik Tucuxi ini menyatakan adanya pembongkaran dan penggantian electric vacuum pumpmemberikan peluang rem blong. Ini dikarenakan, electric vacuum pump yang seharusnya mampu menghasilkan daya rem, tapi karena diganti dengan produk lain kemungkinan beresiko kehilangan daya rem.

Danet juga menegaskan, sistem pengereman Tucuxi hanya bisa diuta-atik oleh pembuatnya saja karena memerlukan kepiawaian. Ini yang menjadi tanda tanya. Jika memang benar begitu, bisa jadi kendaraan ini memiliki tingkat kesensitifan pengereman cukup tinggi, karena hanya bisa dikendalikan oleh sang tuner saja. Justru hal ini menunjukkan bahwa kendaraan rentan kerusakan. Bukan begitu, Guys?

3. Kaca Atap Rentan Pecah
Pada saat menuruni belokan tajam, tiba-tiba rem tidak berfungsi dan memaksa Dahlan banting stir memilih menabrakkannya ke tebing.Body Tuxuci pun porak poranda. Atap panaromic terbuat dari kaca tak tersisa. Namun, syukurlah Dahlan Iskan tak menderita luka serius dan selamat.

Mobil dalam kondisi tidak terbalik, namun atap kaca benar-benar hancur. Ini jelas mengkhawatirkan penggunanya dari segi keselamatan. Jika, 'pahitnya' terjadi insiden semacam ini, serpihan kaca tersebut bisa membahayakan penumpang di dalamnya. Ini pertanyaan 'dangkal' saja Sob, apakah mobil seharga Rp 3 miliar menggunakan material atap kaca berkualitas rendah, sehingga dapat membahayakan penumpang dan orang-orang di sekitarnya.

4. Arus Listrik Bertegangan Tinggi
Pada saat pengevakuasian, Danet Suryatama berpesan agar tim penyidik dan masyarakat sekitar lebih berhati-hati karena Tucuxi diklaim memiliki arus listrik cukup tinggi yang bisa membahayakan siapa saja.

Danet juga mengimbau, penanganan evakuasi sport car itu harus silakukan oleh orang yang berpengalaman, demi menghindari resiko buruk. Ini cukup memprihatinkan. Karena logikanya, jika evakuasi bangkai saja butuh orang ahli dalam hal ini bisa jadi sang tuner, berarti kendaraan ini memiliki tingkat keamanan dan keselamatan cukup rendah dan mengkhawatirkan. Begitukah?

Well, bagaimana pun juga kejadian ini menjadi 'cambuk' bagi Dahlan Iskan dan timnya untuk lebih menyempurnakan lagi hasil rakitannya sebelum diajak mengaspal. Jangan sampai, insiden serupa menimpa konsumen luas ketika produk sudah dipasarkan. (Putri)

0 komentar:

Poskan Komentar